Hai tuan,
apa kabar?
Mengapa
begitu sering kau menghilang sekarang, membuat aku, yang bukan siapa-siapa mu
ini kebingungan.
Menunggumu?
Sudah pasti itu aku lakukan, tapi tetap saja tak pernah ada jawaban. Kau tetap
disana dan tak ada kabar.
Berbagai
kemungkinan muncul dibenakku tiap malam, apakah kamu sedang sibuk dengan
berbagai kegiatan disana?
Apakah kamu
bertemu dia, seseorang dari masa lalu yang membuatmu belum bisa memindahkan
sesuatu, hati?
Apakah kamu
sengaja menghilang untuk dicari?
Atau, memang
kamu tidak berkewajiban memberiku kabar setiap hari? mengingat kita hanya
sebatas gurauan, hanya sebatas aku mempercayakan sesuatu padamu dan kamu tidak
tahu.
Karena tiap
hati punya kapasitas penampung rindu dan rasa, pun benci.
Jika sudah
meluap aku tak bisa apa-apa selain menulis surat ini. Disini, titik lelahku
mencintai kamu seperti ini, seperti orang bodoh, dalam diam, dalam
waktu yang
tak akan pernah bisa kamu bayangkan.
Ini bukan
salah ku kan?
Tak ada yang
pernah tahu dan mau rasa seperti ini datang bersarang. Begitu menyiksa, aku
harus sendiri melewati rindu-rindu saat purnama sedang kamu entah memikirkan
siapa.
Setelah kamu
membaca surat ini, aku ingin kamu bersikap seperti biasa, tak perlu pura-pura
menumbuhkan rasa, karena aku tahu kamu tidak akan bisa. Aku hanya senang tiap
kali berbincang denganmu, tanpa rasa cemburu tanpa kamu harus tahu.
Tapi mungkin
aku sudah tidak ingin seperti itu, aku sudah berusaha memantaskan diri, namun
kamu juga tak kunjung disini.
Aku hanya
sudah tidak ingin lagi hanya menjadi tempat singgah, aku ingin kau akui sebagai
rumah.
Tapi mungkin
di dalam sana, dihatimu itu masih ada penunggu yang tak mau ada aku.
Dan aku,
mungkin sudah kehabisan waktu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar